Riset & Edukasi

ADHD and Self-Regulation in The Workplace

Barnett (2019) menemukan bahwa individu dewasa mengalami kegagalan regulasi diri sebagai isu utama yang mereka alami karena kesulitan memusatkan perhatian, mengontrol perilaku dan impulsivitas serta pengelolaan emosi. Selain itu, pada penelitian ini ditemukan bahwa dewasa dengan ADHD sering kali kesulitan mengatur waktu dan menyelesaikan tugas sehingga mengalami stres dan munculnya konflik interpersonal yang memengaruhi kinerja. Selanjutnya kajian ini juga menemukan bahwa kombinasi pengobatan dan penanganan psikologis serta adanya kebijakan dari tempat kerja efektif untuk meningkatkan kemampuan regulasi diri mereka. Kesimpulan dari penelitian ini juga menunjukkan bahwa regulasi diri merupakan kunci keberhasilan okupasional pada dewasa dengan ADHD dan dapat dijadikan sebagai fokus utama dalam intervensi klinis serta pertimbangan dalam kebijakan suatu organisasi.

Sumber Referensi

Barnett, K. L. (2019). ADHD and self-regulation in the workplace (Publication No. 6166) [Doctoral dissertation, Walden University]. Walden Dissertations and Doctoral Studies Collection. https://scholarworks.waldenu.edu/dissertations/6166

Self-Regulation and State Orientation in Adults with Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder [Selbstregulation, Lageorientierung und Aufmerksamkeit bei erwachsenen ADHS-Patienten]

Volisional dimaknai sebagai suatu keyakinan secara sadar dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi regulasi diri individu terutama bagi yang mengalami ADHD berdasarkan hasil penelitian dari Elsässer, Newark, dan Stieglitz (2014). Mereka menemukan bahwa individu dengan ADHD sering kali mengalami hambatan bukan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi karena kesulitan mengaktifkan kemauan dan mempertahankan arah tindakan. Pada konteks ini, volisional berfungsi sebagai kemampuan untuk menegaskan keputusan, memulai aktivitas, dan tetap berada pada jalur meskipun terdapat distraksi. Volisional dengan kata lain menjadi mekanisme kesadaran yang membantu individu menyeberangkan niat menjadi tindakan yang konsisten.

Sumber Referensi

Elsässer, M., Newark, P. E., & Stieglitz, R.-D. (2014). Self-regulation and state orientation in adults with attention-deficit/hyperactivity disorder [Selbstregulation, Lageorientierung und Aufmerksamkeit bei erwachsenen ADHS-Patienten]. Zeitschrift für Klinische Psychologie und Psychotherapie, 43(2), 127–136. https://doi.org/10.1026/1616-3443/a000248

The Experiences of Adults with ADHD in Interpersonal Relationships and Online Communities: A Qualitative Study

Temuan kualitatif terbaru oleh Ginapp dan koleganya (2023) memperkuat pemahaman bahwa pengalaman sosial orang dewasa dengan ADHD lebih kompleks daripada sekadar gejala klinis. Studi tersebut menunjukkan bahwa individu dewasa dengan ADHD sering merasa perlu untuk “mengontrol” atau “menutupi” gejala tertentu agar dapat diterima dalam relasi sosial. Upaya masking ini justru menimbulkan kelelahan psikologis dan rasa tidak otentik, yang pada akhirnya menurunkan kualitas hubungan interpersonal. Kesulitan dalam menjaga konsistensi komunikasi, mengatur waktu, atau mempertahankan komitmen sering disalahartikan sebagai ketidaktertarikan atau kurangnya tanggung jawab, sehingga individu dengan ADHD rentan terhadap konflik dan penolakan sosial.

Sumber Referensi

Ginapp, C. M., Greenberg, N. R., Macdonald-Gagnon, G., Angarita, G. A., Bold, K. W., & Potenza, M. N. (2023). The experiences of adults with adhd in interpersonal relationships and online communities: a qualitative study. SSM – Qualitative Research in Health, 3, 100223. https://doi.org/10.1016/j.ssmqr.2023.100223